GOD WAS IS DETH (kritik terhadap filsafat Nietze)
Oleh: Ardat Ahmad
Tuhan harus mati, karena manusia tidak dapat bertahan selagi masih ada yang maha mengetahui seperti Dia (F. Nietze). Ada terdapat reduksi diri dalam pernyataan filsafat tersebut. Ada terdapat penyembunyian diri dari sang Maha Mengetahui pada ucapan Nietze tersebut. Ia yang mengatakan bahwa Tuhan telah dibunuh oleh kasih-sayang Tuhan sendiri. Ia juga mengatakan bahwa manusia yang bejatlah yang telah membunuh Tuhan hingga Tuhan mati karena kasih sayang Nya sendiri. Ini merupakan pernyataan manusia yang sangat penuh kegagalan dalam menyelami dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya dan keberadaannya sendiri. Ada terdapat rasa putus ada dan kemaluan yang mendalam untuk menunjukkan keberadaan diri yang terdalam dalam pernyataan Nietze tersebut. Ya memang begitulah kita, setiap manusia memang berkeinginan untuk menjadi manusia yang sempurna dan akan berusaha untuk menyembunyikan segala kekurangan yang berada pada dirinya dengan cara apapun. Tentu saja apabila hati ini penuh dengan duri, taik dan bangkai yang paling busuk maka ia akan berusaha untuk mereduksi segala kejelekan tersebut dengan berbagai cara dan perbuatan yang dianggapnya dapat menutupi segala kebobrokan dirinya.
Kita bisa jadi dapat menutupi segala jelek yang kita miliki pada manusia namun kita tidak dapat menutupinya pada yang selalu menyaksikan apa yang kita lakukan dan mengetahui apapun yang terlintas dilubuk hati kita yang paling dalam. Bisa jadi manusia tidak mengetahui apa yang ada dihati kita namun Tuhan selalu mengetahuinya. Karena pengakuan terhadap keberadaan dan keesahan Tuhan merupakan fitrah manusia. Manusia akan selalu mengakui keberadaan Tuhan walaupun ia mengatakan bahwa tuhan tidak ada atau telah mati. Karena itulah muncul pernyataan tuhan harus mati, karena manusia tidak dapat bertahan selagi ada yang mengetahui segalanya seperti Tuhan. Ia memang bisa jadi manusia tidak mengetahui apa yang ada dihati dan apa yang kita lakukan namun kita sendiri mengetahui apa yang kita lakukan dan ini merupakan pengingkaran yang dilakukan diri terhadap kebenaran Tuhan. Kita tidak akan mampu bertahan hidup dengan segudang dosa yang kita miliki, namun ada usaha yang justeru semakin menyesatkan diri kita yaitu reduksi ideologis. Karena rasa bersalah yang amat berat mengitari hati dan pikiran manusia maka ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati hingga ia dapat bebas melakukan apapun yang ia mau lakukan. Ini merupakan pembunuhan hati nurani yang paling besar yang pernah dilakukan oleh umat manusia.
Adalah sudah biasa kita mengetahui bahwa ada terdapat pengakuan kesalahan yang dilakukan oleh manusia, namun baru kali ini manusia melakukan hal sebaliknya dengan mengatakan bahwa ia tidak berdosa atau tidak ada dosa pada dirinya dikarenakan sudah tidak ada yang memperhatikan dosanya karena Tuhan telah mati. Sungguh sangat sedih jika para pencari kebenaran seperi Nietze, Foucult, Hegel, Heidegar, Fourbach dan lainnya yang mengabdikan dirinya pada kebenaran justeru jauh dari kebenaran itu sendiri. Mereka adalah korban reduksi ideologis hati nurani, yang dengan itu ia ketika menemui kebenaran justeru meninggalkan kebenaran tersebut. Hal ini terjadi karena asumsi awal yang mereka gunakan dalam mencari kebenaran adalah menyimpang dari garis kebenaran sejati. Ketika mereka bertemu dengan kebenaran, mereka takut untuk mengakui kebenaran tersebut. Mereka tidak mempunyai jiwa dan sikap pencari kebenaran sejati, karena sikap pencari kebenaran sejati akan tetap menerima kebenaran yang ia temui walaupun kebenaran tersebut amat bertentangan dengan persepsi ia selama ini.
Dalam Al-qur’an banyak mengindikasikan hal-hal seperti ini, bahkan dalam sejarah Islam ada cerita mengenai Abu jahal dan Abu lahab paman nabi Muhammad SAW yang mengakui kejuran dan kebenaran apa yang dikatakan Muhammad SAW namun karena gengsi untuk mengikuti dan berada dibawah kendali keponakan sendiri maka ia mengingkari hati nurani sendiri. Karena kengganannya untuk meninggalkan agama nenek moyangnya maka ia mengingkari apa yang diketahuinya adalah kebenaran. Dalam kehidupan kita sehari-hari juga banyak kita jumpai orang-orang yang bukan tidak mengetahui bahwa itu suatu kebenaran namun ia enggan untuk menerimanya. Contoh paling dekat adalah tidak ada para penjudi yang tidak mengetahui bahwa berjudi itu dosa dan berbahaya bagi kesejahteraan kehidupan namun ia tetap melakukannya juga. Ada juga pemabuk yang mengetahui bahwa perbuatan tersebut berdosa dan berbahaya bagi kesehatan namun masih saja ia mau menenggak minuman yang memabukkan tersebut. Dan banyak contoh lain nya. Ini merupakan ketidak rasionalan kehidupan kita, hal ini terjadi karena kita takut mengakui keadaan dan malu untuk menerima kebenaran bahwa kita salah. Hidup mempunyai rasionalisasi yang harus dipatuhi yang jika dilawan akan memberikan aksi balasan pada kita sendiri, tentu saja balasan tersebut bukan berupa berbentuk fisik semata namun lebih mengarah pada balasan nonfisik, emosional dan spritual yang merupakan inti dari kemanusian kita sendiri.
o Dalam surah Ali Imran ayat 70 Allah SWT menegaskan “ mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah padahal kamu mengetahui” .
o Dalam surah Al-Anam ayat 33 “akan tetapi orang-orang zalim itu menginkari ayat-ayat Allah”.
o Dalam surah Al-A’raaf ayat 9 “ maka itulah orang yang merugikan dirinya sendiri dikarenakan mereka mengingkari ayat-ayat Kami”.
o Dalam surah Ibrahim ayat 34 dikatakan “sesunggunya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari”.
o Dalam surat An-Nahal ayat 22 “ Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari, sedangkan mereka sendiri orang-orang yang sombong”.
o Juga dalam surat An-Nahl ayat 72 “ maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah”.
o Dalam surat An-Naml ayat 14 “ dan mereka menginkarinya karena kezaliman dan kesombongan padahal hati mereka meyakininya. Maka perhatikan betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”.
o Dalam surat Al-Qashas ayat 82 ” … aduhai benarlah betapa tidak beruntung orang-orang yang mengingkari”.
o Dalam surat Al-Ankabut ayat 49 “ .. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim”.
o Dalam surat Al-Mukmin ayat 63 ” seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat kami”.
o Dalam surat Al-Ahqaab ayat 7 “ orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka”.
Ayat-ayat diatas memberikan penjelasan pada kita bahwa banyak dari manusia yang mengingkari kebenaran yang Allah tunjukkan pada mereka berupa ayat-ayat atau tanda-tanda. Dan harus kita ingat bahwa jika kita mengingkari satu saja kebenaran yang diberikan oleh Allah pada kita maka itu akan mengakibatkan kita tersesat dan akan semakin tersesat setelah kita mengambil suatu kesimpulan berdasarkan penginkaran tersebut. Perhatikan surat Al-A’raf ayat 9 diatas, Allah mengatakan bahwa pengingkaran tersebut akan merugikan diri mereka sendiri. Kerugian disini bukanlah kerugian materi saja melainkan kerugian disebabkan ketidak tenangan jiwa dan hati mereka, jiwa mereka akan mengalami alienasi yang mana jika ini terjadi dan penginkaran terus mereka lakukan maka terjadilah ketidak tenangan jiwa yang sangat teramat ” mereka itu orang yang merugikan diri mereka sendiri”. Jika saja mereka bergerak semakin jauh maka hati mereka semakin gundah terhadap apa yang mereka lakukan oleh sebab itu mereka dengan terpaksa harus mengingkari kembali keberadaan sang wajibul wujud dengan mengatakan bahwa tuhan telah mati “ god was is deth”.
Hal tersebut mereka lakukan agar rasa bersalah yang mengitari diri dan hati mereka dapat berkurang inilah yang dikatakan dengan reduksi ideologis yang merupakan pembohongan diri yang terbesar. Dalam surat Ibrahim ayat 34 dikatakan bahwa orang yang mengingkari kebenaran yang datang padanya adalah orang yang zalim yang dapat diartikan sebagai orang yang bodoh. Zalim disini memiliki arti yang sama dengan orang yang tidak mengetahui sama sekali jadi walaupun mereka yang mengeluarkan pendapat bahwa god was is deth adalah para filosof namun mereka sebenarnya adalah orang yang tidak mengetahui apa-apa. Bukankah mereka adalah para ilmuwan dan filosof?. Ya memang benar mereka lebih cerdas dari orang-orang desa yang berpendidikan rendah, namun kita harus tahu bahwa seseorang dikatan berilmu apabila ia mengetahui kebenaran yang hakiki bukan kebenaran yang semu dan palsu. Para filosof yang mengingkari kebenaran wajibul wujud tersebut adalah orang-orang yang mengetahui banyak tentang kebenaran semu dan sedikit atau tidak sama sekali kebenaran yang hakiki. Jika seperti itu masihkah kita mengatakan bahwa para filosof tersebut lebih dari pak Somat yang setiap hari hanya kesawah untuk menanam padi namun yakin dengan seyakinnya bahwa ia hanya berusaha dan Allah lah yang memberikan dan menetapkan rejeki baginya.
Oleh sebab itu sebagai pencari kebenaran sejati janganlah sekali-kali kita menginkari kebenaran yang datang pada kita karena sekali kita menginkari kebenaran yang datang pada kita mengakibatkan kita juga akan mengingkari kebenaran yang datang berikutnya ” orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, … aduhai benarlah betapa tidak beruntung orang-orang yang mengingkari, seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat kami”. Karena Allah akan memalingkan ia dari kebenaran sebagaimana ia telah terbiasa memalingkan diri dari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Allah. Hal ini akan mengakibatkan ia semakin tersesat dan tersesat terus hingga akhir hayat mereka. Nauzubillahiminjalik, semoga kita terhindar dari hal demikian. Semoga kita terhindar dari pencarian kebenaran, dimana setelah kita menemukannya kita mengingkari atau pada yang lebih para kita dipalingkan Allah dari kebenaran itu dikarenakan kita biasa memalingkan diri dari kebenaranNya.
Satu surat yang harus kita renungi bersama adalah surat Ash-shaff ayat 5 “ …Allah tidak memberi petunjuk pada orang yang fasik”. Orang yang fasik ialah orang yang mengetahui sesuatu tapi tidak menghiraukannya. Semoga saya bukan temasuk dalam golongan orang-orang yang fasik. Amin ya Allah amin ya rabbal alamin. Engkaulah Tuhan semesta alam yang menguasai ufuk barat dan timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar