Cahaya manusia ibarat bulan yang bersinar terang, bulan tidak mengeluarkan cahayanya sendiri. Ia mendapatkan cahayanya dari matahari. Oleh sebab itu keberadaan cahaya bulan tergantung dari kedekatannya dengan matahari. Ketika bulan dekat dengan matahari maka cahaya nya yang terlihat terang benderang sedangkan apabila bulan jauh dari matahari maka cahayanya redup reda. Begitu juga dengan manusia, jika ia dekat pada yang maha kuasa yaitu yang memiliki dan menjadi sumber cahaya maka ia akan memancarkan cahaya yang terang benderang seperti bulan sedang purnama sedangkan apabila ia jauh dari sang pencipta maka ia akan redup dan tidak bercahaya. Sehingga jika ia telah jauh sekali dari sumber cahaya tersebut ia akan kehilangan cahaya sama sekali hingga tidak ada lagi yang dapat meneranginya kecuali kemurahan dari Allah semata.
Dekat atau jauhnya manusia dari cahaya ilahi tergantung pada amal perbuatan yang dilakukannya. Jika ia berbuat baik maka ia telah memoles dirinya dengan cahaya yang jika ia terus menerus berbuat baik maka cahaya tersebut akan semakin nyata hingga ia diliputi oleh cahaya ilahiyah. Dan jika ia melakukan amalan yang tidak baik dan jauh dari keridhaan Allah maka secara perlahan setiap satu kekhilafan yang dilakukannya akan menghasilkan satu goresan hitam dihatinya yang semakin lama akan semakin menumpuk menutupi seluruh sisi relung permukaan hatinya hingga suatu saat tidak ada permukaan hatinya yang tebuka untuk menerima cahaya dari luar dan inilah yang difirmankan Allah dalam Al-qur’an sebagai orang yang telah mati hatinya. Dalam surat Al- Mutaffifin ayat 14 Allah berfirman “ … sebenarnya apa yang biasa mereka kerjakan itu menutupi hati mereka”.
Jika saja hati kita telah dipenuhi oleh kemaksiatan dan perbuatan yang menyimpang dari garis agama Allah maka semakin lama akan semakin sulit bagi kita untuk kembali pada agama Allah dikarenakan apa yang kita lakukan telah mengotori hati kita dan menutupi pintu-pintu tempat cahaya ilahi bernaung. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan, kita tidak menyadari jika apa yang kita lakukan menutupi permukaan hati kita secara perlahan. Kita menganggap enteng perbuatan kecil yang mengandung noda. Kita memandang remeh perbuatan kecil yang mengandung noda, padahal secara perlahan-lahan ia menutupi permukaan hati kita hingga jika permukaan hati kita telah dipenuhi oleh noda-noda dan telah sulit bagi kita untuk membersihkannya barulah kita tersadar. Namun disaat itu sudah sulit bagi kita untuk mendapatkan cahaya ilahi kembali. Hanya karunia Allah sajalah yang menyebabkan hati itu bercahaya kembali.
Diibaratkan hati manusia adalah kaca. Jika kaca itu tidak ada debu maka akan mudah memantulkan cahaya dan disaat kaca tersebut ditutupi oleh debu maka akan sulit baginya untuk memantulkan cahaya atau benda apapun. Demikian juga hati, jika saja ia besinar maka akan mudah baginya untuk menangkap segala ayat-ayat Allah yang ada dialam semesta ini. Ini lah yang dikatakan Allah dalam Al-qur’an jika saja hati manusia itu bersih maka akan terbukalah baginya segala hijab. Manusia sulit mengetahui bagaimana dunia dan kehidupan ini sebenarnya jika ia tidak mempunyai hati yang bersih dan jiwa yang tenang.
Oleh sebab itu bersihkanlah hatimu wahai manusia yang hina dan penuh dengan noda, cucilah pakaian mu dengan air wudhu dan siramilah jubahmu dengan cahaya-cahaya zikir untuk mencapai kebersihan dan keputihan hati yang benar-benar suci. Hai manusia pendosa, taukah engkau kemana akan berakhirnya kehidupan didunia ini. Tahukah engkau kemana engkau akan dicampakkan ketika matahari berada diatas kepalamu. Tahukan engkau apa itu artinya hutomah, ialah api yang menyala-nyala.
“ manusia yang menginginkan cahaya yang melebihi dari segala cahaya bintang terbit dari dalam dirinya akan sanggup menjalani perjalanan hidup yang penuh kerikil dan akan sanggup untuk mendaki jurang yang paling terjal sekalipun hanya demi sebuah cita-cita kehidupan yang paling luhur, cahaya diri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar